DATA MAKROEKONOMI
Nama : FITRIA ANISAH
NPM : 1601270036
Prodi : 4A perbankan syariah
Doping : Pak TOTOK HARMOYO SE, M.Si
NPM : 1601270036
Prodi : 4A perbankan syariah
Doping : Pak TOTOK HARMOYO SE, M.Si
BAB 1
DATA MAKROEKONOMI
KONDISI
EKONOMI OPTIMAL APABILA GDP OPTIMAL
GDP (GROSS DOMESTIC PRODUK) atau
PDB (PRODUK DOMESTIK BRUTO) adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang
diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu. Aliran sirkuler transaksi ekonomi antara rumah
tangga dan perusahaan (roti dan tenaga kerja). Rumah tangga menjual tenaga
kerjanya ke perusahaan. Perusahaan menggunakan para pekerjanya untuk
memproduksi roti, yang kemudian dijual ke rumah tangga. Dengan demikian, tenaga
kerja mengalir dari rumah tangga ke perusahaan, dan roti mengalir dari
perusahaan ke rumah tangga.
Kemudian, rumah tangga akan membeli
roti dari perusahaan. Perusahaan menggunakan sebagian penerimaannya dari
penjualan tersebut untuk membayar upah tenaga kerja, dan sisanya adalah laba
yang dinikmati para pemilik perusahaan (mereka sendiri adalah bagian dari
sektor rumah tangga). Dengan demikian, pengeluaran atas roti mengalir dari
rumah tangga ke perusahaan, dan pendapatan dalam bentuk upah dan laba mengalir
dari perusahaan ke rumah tangga.
GDP RIIL dan GDP NOMINAL
Kaidah yang baru saja dijelaskan
untuk menghitung GDP. Yang berupa nilai output total barang dan jasa
perekonomian. Tetapi apakah GDP merupakan ukuran yang baik dari kemakmuran
ekonomi? Dalam perekonomian ini GDP adalah jumlah dari nilai seluruh apel dan
seluruh jeruk yang diproduksi. Yaitu,
GDP = ( Harga Apel X Jumlah Apel ) + ( Harga Jeruk X Jumlah
Jeruk )
Dengan mudah kita bisa melihat bahwa
GDP yang dihitung dengan cara bukan ukuran kemakmuran ekonomi yang baik. Ukuran
ini tidak secara akurat mencerminkan sejauh mana perekonomian bisa memuaskan
permintaan rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Jika seluruh harga
digandakan tanpa perunahan dalam jumlah, GDP akan berlipat ganda. Para ekonom
menyebut niali barang dan jasa yang diukur dengan harga berlaku sebagai GDP
nominal (nominal GDP). Ukuran
kemakmuran ekonomi yang lebih baik akan menghitung output barang dan jasa
perekonomian dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan harga. Untuk tujuan ini,
para ekonom menggunakan GDP riil (Real GDP), yang nilai barang dan jasanya di ukur dengan
menggunakan harga konstan. Yaitu, GDP riil menunjukkan apa yang akan terjadi
terhadap pengeluaran atas output jika jumlah berubah tetapi harga tidak.
Misalkan,
GDP riil tahun 2006:
=
jeruk (25kg x 10.000) + apel (10kg x 30.000)
=
550.000
GDP
riil tahun 2006 adalah 550.000, dimana harga jeruk 10.000 dan harga apel 30.000
menjadi harga dasar untuk tahun selanjutnya.
Misal, GDP nomimal
tahun 2006:
GDP 2006 650.000 dengan harga jeruk 12.000 dan harga apel
35.000. Sedangkan GDP nominal pada tahun 2007 akan berubah dengan jumlah buah
yang sama tetapi dengan harga yang berbeda yang berlaku pada tahun 2007
tersebut, misalnya harga jeruk menjadi 9.000 dan harga apel menjadi 40.000.
KOMPONEN-KOMPONEN PENGELUARAN
Para ekonom dan para pembuat
keputusan tidak peduli pada output barang dan jasa total, tetapi juga alokasi
dari output ini diantara berbagai alternative. Pos pendapatan nasional membagi
GDP menjadi empat kelompok pengeluaran:
·
Konsumsi
(C)
·
Investasi
(I)
·
Pembelian
Pemerintah (G)
·
Ekspor
neto (NX)
Jadi, dengan menggunakan symbol Y untuk GDP
Y
= C + I + G + NX
GDP adalah jumlah konsumsi, investasi, pembelian pemerintah,
dan ekspor bersih. Setiap dolar GDP masuk ke salah satu kategori ini. Persamaan
ini adalah sebuah identitas persamaan yang harus digunakan agar
variabel-variabel bisa didefinisikan. Persamaan ini disebut identitas pos pendapatan nasional (
national income accounts identity ).
Konsumsi (consumption) terdiri
dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Konsumsi dibagi menjadi tiga
subkelompok: barang tidak tahan lama, barang tahan lama, dan jasa. Barang tidak
lama (nondurable goods) adalah barang-barang yang habis dipakai dalam waktu
pendek, seperti makanan dan pakaian. Barang tahan lama (durable goods) adalah
barang-barang yang memiliki usia panjang, seperti mobil dan TV. Jasa (service)
meliputi pekerjaan yang dilakukan untuk konsumen oleh individu dan perusahaan,
seperti potong rambut dan berobat ke dokter.
Investasi (investment) terdiri dari
barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa depan. Investasi juga dibagi
menjadi tiga subkelompok: investasi tetap bisnis, investasi tetap residensial,
dan investasi persediaan. Investasi tetap bisnis adalah pembeliaan pabrik dan
peralatan baru oleh perusahaan. Investasi residensial adalah pembelian rumah
baru oleh rumah tangga fdan tuan tanah. Investasi persediaan adalah peningkatan
dalam persediaan barang perusahaan (jika perusahaan menurun, investasi
persediaan negative).
Pembelian
Pemerintah (government purchase) adalah barang dan jasa yang dibeli
oleh pemerintah pusat, Negara bagian, dan daerah. Kelompok ini meliputi
peralatan militer, jalan laying, dan jasa yang diberikan pegawai pemerintah.
CPI Versus Deflator GDP
Ada tiga perbedaan penting diantara
kedua ukuran itu. Perbedaan pertama
adalah bahwa deflator GDP mengukur harga seluruh barang dan jasa yang
diproduksi, sedangkan CPI hanya mengukur harga barang dan jasa yang dibeli
konsumen. Jadi, peningkatan dalam harga barang yang diproduksi oleh perusahaan
atau pemerintah akan tampak meningkat dalam deflator GDP tetapi tidak dalam
CPI. Perbedaan kedua adalah bahwa deflator GDP hanya
mencakup barang dan jasa yang diproduksi secara domestic. Barang-barang impor
bukan merupakan bagian dari GDP dan tidak meningkatkan deflator GDP. Jadi,
kenaikan harga Toyota yang dibuat di Jepang dan di jual di negeri ini
mempengaruhi CPI. Karena Toyota dibeli oleh konsumen, tetapi tidak mempengaruhi
deflator GDP. Perbedaan
ketiga dan yang
paling halus disebabkan oleh cara kedua ukuran itu mengagregatkan berbagai
tingkat harga dalam perekonomian. CPI menggunakan timbangan tetap terhadap
harga barang-barang yang berbeda, sedangkan deflator GDP menggunakan timbangan
tidak tetap. Dengan kata lain, CPI dihitung dengan menggunakan sekelompok
barang tetap, sedangkan deflator GDP memuingkinkan kelompok barang itu berubah
setiap saat bila komposisi GDP berubah.
Para ekonom menyebut indeks harga
dengan sekelompok barang tetap sebagai indeks laspeyres dan indeks harga dengan
kelompok barang tidak tetap sebagai indeks paasche. Para pembuat ekonomi
mempelajari muatan dari jenis indeks harga yang berbeda ini dengan menentukan
mana ukuran biaya hidup yang lebih baik. Ketika harga barang-barang yang
berbeda dengan jumlah yang berbeda, indeks laspeyres (kelompok barang tetap)
cenderumg menetapkan terlalu tinggi peningkatan biaya hidup karena tidak
memperhitungkan bahwa konsumen memiliki peluang untuk menstubtitusi barang yang
lebih murah ketimbang barang yang mahal. Sebaliknya, indeks paasche (kelompok
barang tidak tetap) cenderung menetapkan terlalu rendah peningkatan biaya
hidup. Meskipun memperhitungkan subtitusi barang-barang alternative, namun
indeks itu tidak mencerminkan pengurangan dalam kesejahteraan konsumen yang
mungkin disebakan oleh subtitusi itu.
Untuk sejumlah alasan, CPI cenderung
melebihkan nilai inflasi. Satu masalah adalah bias subtitusi yang kita bahas
sebelumnya. Karena mengukur harga dari sekelompok barang tetap, CPI tidak
mencerminkan kemampuan konsumen melakukan subtitusi ke barang-barang yang harga
relatifnya rendah. Jadi, ketika hrga relative berubah, biaya hidup yang
sebenarnya tidak meningkat secepat CPI.
Masalah kedua adalah peluncuran
produk-produk baru. Ketika sebuah produk baru diluncurkan ke pasar, konsumen
merasa lebih baik, karena mereka memiliki lebih banyak produk pilihan.
Sebenarnya, peluncuran produk baru meningkatkan nilai riil dolar. Masalah ketiga
adalah perubahan-perubahan mutu yang tidak diukur. Ketika perusahaan mengubah
mutu produk yang dijialnya, tidak semua perubahan harga produk mencerminkan
perubahan biaya hidup. Biro Analisis Ekonomi bertugas menghitung
perubahan-perubahan dalam mutu produk sepanjang waktu. Jika peningkatan mutu
yang tidak terukur (bukan penurunan mutu yang tidak terukur) bersifat tipikal,
maka CPI meningkat lebih cepat dari yang seharusnya.
MENGUKUR TINGKAT
PENGANGGURAN
Pengangguran adalah
orang yang masuk dalam kategori angkatan kerja (penduduk yang berumur 15-59
tahun,ada beberapa negara lain memakai kategori 15-64 tahun) yang sedang
mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Jumlah tenaga kerja atau angkatan
kerja tidak boleh disamakan dengan jumlah penduduk. Mengapa demikian???
Sebagian dari penduduk tidak dapat digolongkan sebagai angkatan kerja karena
terlalu muda atau terlalu tua untuk dapat bekerja secara efektif. Golongan
penduduk ini tidak termasuk ke dalam angkatan kerja. Tetapi tidak semua
penduduk yang berada dalam lingkungan umur 15-59 tahun atau 15-64 tahun dapat
dipandang sebagai Angkatan Kerja. Apabila mereka tidak bekerja dan tidak
mencoba mencari pekerjaan,walaupun umur mereka seperti di atas, maka mereka
tidak termasuk golongan Angkatan Kerja. Golongan masyarakat seperti itu adalah
: pelajar sekolah menengah(sebelum tingkat universitas), mahasiswa dan
ibu rumah tangga.
Perbandingan diantara jumlah angkatan
kerja yang menganggur dengan angkatan kerja keseluruhannya disebut Tingkat Pengangguran. Untuk mengukur tingkat
pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari persentase membagi
jumlah pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.
Tingkat Pengangguran = Jumlah
pengangguran / Jumlah Angkatan Kerja x 100 %

Komentar
Posting Komentar